Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Hikmah Puasa Ramadan

PFM
Artikel
13 Maret 2025 14:06:31

Image Berita


HIKMAH PUASA RAMADAN (BAGIAN PERTAMA)

Oleh: Bisri Mustofa, S.Sos, M.IP

Penyuluh Sosial Muda Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kulon Progo 

 

Puasa di bulan Ramadan barangkali merupakan ibadah wajib  yang paling mendalam bekasnya pada jiwa seorang muslim. Pengalaman selama sebulan dengan berbagai kegiatan yang menyertainya seperti berbuka, tarwih, dan makan sahur senantiasa membentuk unsur kenangan yang mendalam akan masa kanak-kanak di hati seorang muslim. Maka ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk jiwa keagamaan seorang muslim, dan menjadi sarana pendidikannya di waktu kecil  dan seumur hidup. Semua bangsa muslim menampilkan corak keruhanian yang sama selama berlangsungnya puasa dengan beberapa variasi tertentu dari satu ke lainnya.

Maka tidak terlalu salah jika kita kaum muslimin Indonesia mempunyai kesan yang amat khas tentang bulan Ramadan, agaknya lebih dari kaum muslim di negeri-negeri lain. Bulan Ramadan merupakan bulan keagamaan dengan intensitasnya yang tinggi, yang bakal meninggalkan kesan mendalam pada mereka yang terlibat. Kekhasan suasana Ramadan pada bangsa kita tercermin juga dalam suasana Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri yang khas Indonesia. Maka sudah tentu akan lebih baik sekali jika memahami berbagai hikmah ibadah puasa yang kita jalankan selama bulan itu.

Puasa Umat Terdahulu

Sebelum kita membicarakan ibadah yang khas ini, ada baiknya kita menyempatkan diri menengok sejenak ke masa lain, guna memperoleh sedikit bahan perbandingan tentang bagaimana puasa dijalankan oleh berbagai golongan manusia.

Firman Allah berkenaan dengan kewajiban kaum beriman menjalankan ibadah puasa menyebutkan adanya kewajiban serupa atas manusia manusia sebelum mereka, ”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas mereka sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah ayat 183)

Menurut para ahli, puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling mula-mula serta yang paling luas tersebar di kalangan umat manusia. Bagaimana puasa itu dilakukan, dapat berbeda-beda dari satu umat ke umat yang lain, serta dari satu tempat ke tempat yang lain. Bentuk puasa yang umum selalu  berupa siap menahan diri dari makan dan minum serta dari pemenuhan kebutuhan biologis, seks. Juga ada puasa berupa penahanan diri dari bekerja, malah dari berbicara. Puasa berupa penahanan diri dari berbicara dituturkan dalam Al-Qur’an  pernah dijalankan oleh Siti Maryam, ibunda Nabi Isa al-Masih. Karena terancam akan diejek oleh masyarakatnya bahwa ia telah melakukan suatu perbuatan keji (sebab ia telah melahirkan seorang  putra tanpa ayah), maka Allah memerintahkannya untuk melakukan puasa dengan tidak berbicara kepada siapa pun juga. Firman Allah berkenaan dengan hal ini:

…Lantaran itu, makan dan minumlah (wahai Maryam), serta tenangkanlah dirimu. Dan jika terjadi engkau melihat seseorang, maka katakanlah kepadanya,”Sesungguhnya aku berjanji (nadzar) untuk melakukan puasa (shaum)  kepada Yang Maha Pengasih. Karena itu hari ini aku tidak akan berbicara kepada siapapun juga. (QS. Maryam ayat 26)

Jadi pokok amalan lahiriah puasa ialah pengingkaran jasmani dan ruhani secara sukarela dari sebagaian kebutuhannya, khususnya kebutuhan yang menyenangkan. Pengingkaran jasmani dari kebutuhannya, yaitu makan dan minum, dapat beraneka ragam. Kaum muslimin berpuasa dengan menahan diri dari makan dan minum secara mutlak (semua bentuk makanan  dan minuman dihindari, tanpa kecuali), sejak dari fajar sampai terbenamnya matahari. Tetapi ada umat lain yang berpuasa dengan menghindari beberapa jenis makanan atau minuman tertentu saja. Konon  kaum Sabean dan para pengikut Manu, yaitu kelompok-kelompok keagamaan di Timur Tengah Kuno, khususnya di Mesopotamia dan Persia, adalah umat-umat yang menjalankan puasa dengan menghindari jenis tententu  makanan dan minuman itu. Demikian halnya dengan kaum Kristen, khususnya Kristen Timur di Asia Barat dan Mesir.

Dari segi waktu pun terdapat keanekaragaman dalam amalan berpuasa. Ada umat yang menjalankan puasa hanya untuk sebagian siang, atau seluruh siang, atau siang dan malam sekaligus. Bahkan ada juga yang menjalankannya hanya untuk malam hari. Karena itu sebagian dari ahli tafsir dalam Islam merasa perlu menerangkan hikmah puasa di siang hari saja seperti yang dijalankan oleh kaum Muslimin. Puasa di siang hari adalah yang lebih utama dari pada di malam hari, karena lebih berat. Ini dikaitkan dengan ketentuan, menurut sebuah hadis Nabi bahwa ”Ibadah yang paling utama ialah yang paling menggigit (yakni paling berat)” dan bahwa “sebaik-baik amalan ialah yang paling menggigit.” Nampak bahwa ibadah puasa memang sangat  berkaitan dengan ide latihan atau riyadhah (exercise), yaitu latihan keruhanian, sehingga semakin baik dan utama, karena semakin kuat membekas pada jiwa dan raga orang yang melakukannya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa puasa merupakan salah satu matarantai yang menunjukkan segi kesinambungan atau kontinuitas agama-agama. Dalam hal Islam, puasa menjadi salah satu bukti bahwa agama itu merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari agama-agama Allah yang telah diturunkan kepada umat sebelumnya. Segi kesinambungan atau kontinuitas Islam dengan agama-agama sebeumnya itu merupakan hal yang sangat kukuh dijelaskan dalam Kitab Suci, yaitu dalam persepektif bahwa peran Nabi Muhammada Saw ialah tidak lain meneruskan dan menggenapkan misi suci para Nabi dan Rasul sebelumnya sepanjang sejarah.

Sesungguhnya Kami (Allah) telah mewahyukan kepada Engkau (Muhammad) sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan kepada para Nabi sesudahnya, dan yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub , serta anak cucunya, dan kepada Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, sedangkan kepada Dawud telah Kami berikan Kitab Zabur.

Juga kepada para Rasul yang telah Kami kisahkan mereka itu kepada engkau sebelum ini, serta kepada para Rasul yang tidak Kami kisahkan mereka itu kepada engkau. Dan sungguh Allah telah berbicara (langsung) dengan Musa.

Yaitu para rasul yang membawa kegembiraan dan ancaman, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia atas Allah sesudah para Rasul itu. Allah itu Maha Mulia dan Maha Bijaksana.

Namun Allah bersaksi bahwa apa yang diturunkan kepada engkau itu ia turunkan dengan pengetahuan-Nya, begitu pula para malaikat pun semuanya bersaksi. Dan sebenarnya cukuplah Allah sebagai saksi.  (QS. An-Nisa ayat 163-166)

 

(Bersambung)

 

Daftar Pustaka

Nasution, Harun, 1982, Akan dan Wahyu dalam Islam , UI Press, Jakarta.

Shihab, Quraish, 2023, Membumikan Al Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Jakarta.

 

Source: Bisri - Dissos P3A KP

WhatsApp Chat