Home Publikasi Berita Detail Berita

Detail Berita

Arti Penting Pendidikan dalam Keluarga

PFM
Artikel
27 Januari 2026 11:26:21

Image Berita


Arti Penting Pendidikan dalam Keluarga

 

Oleh:

Bisri Mustofa, S.Sos, M.IP

Penyuluh Sosial pada Bidang Dayasos PFM Dinas Sosial PPPA Kabupaten Kulon Progo

 

Tugas keluarga dalam mendidik anak-anak sudah sangat berat dan harus dibantu oleh sekolah. Tetapi, kita harus ingat bahwa tidak semua anak sedari kecilnya sudah menjadi tanggungan sekolah. Janganlah kita salah tafsir bahwa anak-anak yang sudah diserahkan kepada sekolah untuk dididiknya adalah seluruhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Dapatlah dikatakan bahwa kewajiban sekolah adalah membantu keluarga dalam mendidik anak-anak.

Dalam mendidik anak-anak itu, sekolah melanjutkan pendidikan anak-anak yang telah dilakukan orang tua di rumah. Berhasil baik atau tidaknya pendidikan di sekolah bergantung pada dan dipengaruhi oleh pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan keluarga adalah fundamen atau dasar dari pendidikan anak selanjutnya. Hasil-hasil pendidikan yang diperoleh anak dalam keluarga menentukan pendidikan anak itu selanjutnya, baik di sekolah maupun dalam masyarakat.

Demikianlah, tidak dapat disangkal lagi betapa pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga bagi perkembangan anak-anak menjadi manusia yang berpribadi dan berguna bagi masyarakat. Tentang pentingnya pendidikan dalam lingkungan keluarga itu telah dinyatakan oleh banyak ahli didik dari zaman yang telah lampau.

Comenius (1592-1670), seorang ahli didaktik yang terbesar, dalam buku Didaktica Magna, di samping mengemukakan asas-asas didaktiknya yang sampai sekarang masih dipertahankan kebenarannya, juga menekankan betapa pentingnya pendidikan keluarga itu bagi anak-anak yang sedang berkembang. Dalam uraiannya tentang tingkatan-tingkatan sekolah yang dilalui oleh anak sampai mencapai tingkat kedewasaannya, ia menegaskan bahwa tingkatan permulaan bagi pendidikan anak-anak dilakukan di dalam keluarga yang disebutnya scola-materna (sekolah ibu). Untuk tingkatan ini ditulisnya sebuah buku penuntun, yaitu Informatorium. Di dalamnya diutarakan bagaimana orang-orang tua harus mendidik anak-anaknya dengan bijaksana, untuk memuliakan Tuhan dan untuk keselamatan jiwa anak-anaknya.

J.J. Rousseau (1712-1778), sebagai salah seorang pelopor ilmu jiwa anak, mengutarakan pula betapa pentingnya pendidikan keluarga itu. Ia menganjurkan agar pendidikan anak-anak disesuaikan dengan tiap-tiap masa perkembangannya sedari kecilnya. Dalam buku, yang diberi judul Emile, dijelaskannya pendidikan-pendidikan manakah yang perlu diberikan kepada anak-anak mengingat masa-masa perkembangan anak itu.

Perlu pula kita ketahui bahwa dasar pendidikan menurut Rousseau ialah alam anak-anak yang belum rusak; anak-anak harus dididik sesuai dengan alamnya. Kata-kata Rousseau yang penting dan selalu menjadi pedoman bagi kaum pendidik ialah anak itu bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Pikiran, perasaan, keinginan, dan kemampuan anak itu berbeda dengan kemampuan orang dewasa.

C.G. Salzmann (1744 - 1811), seorang penganut aliran philantropinum, juga telah mengeritik dan mengecam pendidikan yang telah dilakukan oleh para orang tua waktu itu. Dalam karangannya, Krebsbuchlein (Buku Udang Karang). Salzmann mengatakan bahwa segala kesalahan anak-anak itu adalah akibat dari perbuatan pendidik-pendidiknya, terutama orang tua. Orang tua pada masa Salzmann dipandangnya sebagai penindas yang menyiksa anaknya dengan pukulan yang merugikan kesehatannya, dan menyakiti perasaan-perasaan kehormatannya. Di sini Salzmann hendak menunjukkan bahwa pendidikan keluarga atau orang tua penting sekali. Ia juga menunjukkan betapa besar pengaruh lingkungan alam sekitar terhadap pertumbuhan dan pendidikan anak-anak.

Pestalozzi (1746-1827), seorang ahli pendidikan sosial yang kenamaan, telah mengabdikan tenaga, pikiran, dan hidupnya untuk kepentingan anak-anaknya. Di berbagai tempat di negerinya (antara lain di Neuhof, di Stanz, dan Burgdorf) ia mendirikan tempat-tempat pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak yatim-piatu dan anak miskin lainnya, yang kebanyakan dari anak-anak tersebut tidak mendapat pendidikan dari orang tuanya. Dalam tempat-tempat pendidikannya itu ia bekerja sebagai ayah, ibu, dan guru dari anak-anak, yang dididiknya secara klasikal itu.

 

 

Daftar Pustaka

Mustofa, Bisri, 2015, Psikologi Pendidikan, Parama Ilmu, Yogyakarta

Sartain, A.Q., 2014, Psychology: Understanding Human Behavior, McGraw-Hill Book Company, Inc.

 

 

Source: BM

WhatsApp Chat