Anak Harus Dididik Menjadi Manusia Cakap
(Menyosong Berdirinya Sekolah Rakyat di Yogyakarta)
Oleh : Bisri Mustofa, S.Sos, M.IP
Penyuluh Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Kulon Progo
Kalau kita teliti sekali lagi apa yang menjadi tujuan pendidikan dan pengajaran di negara kita ini, ternyata bahwa di dalam undang-undang itu tercantum tujuan mendidik yang lengkap. Tidak hanya mengenai kesusilaan saja, tetapi juga jasmaniah, akal, dan kemasyarakatan atau sosial. Demikianlah menurut tujuan tersebut bukan hanya membentuk manusia susila, melainkan juga manusia susila yang cakap.
Apakah yang dimaksud dengan manusia yang cakap? Samakah cakap itu dengan banyak pengetahuan? Bilamanakah orang itu dapat disebut cakap?
Banyak orang yang menafsirkan cakap itu sama dengan ”pandai”, yang berarti banyak hapal tentang pelajaran yang diberikan di sekolah. Orang yang berpendirian demikian akan merasa puas jika murid-muridnya hapal dan dapat mereproduksikan kembali pelajaran-pelajaran yang diberikan dan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang diajukan kepada mereka. Bagi pendidik yang demikian, cakap berarti memiliki pengetahuan banyak; dan mendidik manusia cakap berarti memasukkan pengetahuan-pengetahuan yang banyak kepada otak anak-anak. Cara mereka mendidik sungguh-sungguh intelektualistis dan nilai materil yang diutamakan.
Kalau yang dimaksudkan dengan orang yang cakap seperti di atas nyatalah bahwa itu tidak benar. Orang yang dididik demikian belum berarti bahwa ia tentu dapat menunaikan tugasnya di dalam masyarakat. Bahkan, sering kita lihat yang sebaliknya.
Masyarakat membutuhkan syarat-syarat lain yang tertentu dari tiap-tiap anggotanya. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang rajin dan giat melakukan tugasnya yang telah dipikulkan kepadanya, membutuhkan orang-orang yang dapat bertanggung jawab dan tahu akan kewajibannya, pandai menggunakan akal dan pikirannya atau berinisiatif dan melaksanakan tugasnya sehingga selalu mencari kebaikan dan kemajuan-kemajuan. Orang yang cakap tidak statis, apatis atau masa bodoh saja. Juga masyarakat membutuhkan orang yang dapat menempatkan diri, menyesuaikan diri dalam masyarakat sesuai dengan pembawaan, kecakapan, dan kemampuannya. The right man in the right place, kata orang Inggris.
Dalam masyarakat terdapat bermacam-macam jabatan dan pekerjaan yang masing-masing membutuhkan syarat-syarat dan kecakapan yang berlain-lainan dari anggota-anggotanya. Selain syarat-syarat pengetahuan atau kecakapan rohani, masyarakat memerlukan pula kecakapan jasmani atau ketangkasan.
Dari uraian tersebut di atas, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan orang yang cakap itu tidak hanya orang yang banyak memiliki ilmu pengetahuan saja. Bahkan, bukanlah yang nomor satu. Orang disebut cakap jika orang itu pandai menggunakan daya-daya akal dan pikirannya dengan baik sehingga pekerjaan yang harus dilakukan dengan menggunakan daya-daya akal dan pikiran dapat berlangsung dengan cepat dan lancar. Demikian pula, kecakapan itu tidak akan membuahkan hasil yang baik jika tidak disertai syarat-syarat kesusilaan. Memang, kita tidak dapat mengartikan cakap itu tanpa memasukkan ke dalamnya arti susila. Susila dan cakap adalah dua hal yang selalu isi-mengisi. Bahkan, dapat kita katakan bahwa kesusilaan adalah dasar bagi kecakapan. Lebih jelas lagi yang diperlukan oleh masyarakat kita ini adalah orang yang cakap menunaikan tugasnya dengan bersendikan kesusilaan.
Daftar Pustaka
Mustofa, Bisri, 2015, Psikologi Pendidikan, Parama Ilmu, Yogyakarta
Sartain, A.Q., 2014, Psychology: Understanding Human Behavior, McGraw-Hill Book Company, Inc.