Bermain Sebagai Cara Belajar yang Terbaik

BERMAIN SEBAGAI CARA BELAJAR YANG TERBAIK

Oleh: Bisri Mustofa, S.Sos, M.I.P

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kulon Progo

 

Bermain dan Belajar

Bermain merupakan suatu fenomena yangsangat menarik perhatian para pendidik psikolog, ahli filsafat dan banyak orang sejak beberapa dekade yang lalu. Mereka tertantama untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan ting,kah laku manusia. Bermain benar-benar merupakan pengertian yang sulit dipahami karena muncul dalam beraneka ragam bentuk. Bermain itu sendiri bukan hanya tampak pada tingkah laku anak tetapi pada usia dewasa bahkan bukan hanya pada manusia.

Batasan Bermain

Pada kehidupan sehari-hari perkataan bermain begitu mudah diamati namun dalam beberapa situasi, bermain sulit dibedakan dengan kegiatan yang bukan bermain. Kamil (2016) mengemukakan suatu batasan bermain sebagai berikut

Bermaian bukan bekerja: bermain adalah pura-pura: bermain bukan sesuatu yang sungguh-sungguh; bermain bukan suatu kegiatan yang produktif; dan sebagainya .... bekerja pun dapat diartikan bermain sementara kadang-kadang bermain dapat dialami sebagai bekerja; demikian pula anak yang sedang bermain dapat membentuk dunianya sehingga seringkali dianggap nyata, sunguh-sungguh, produktif dan menyerupai kehidupan yang sebenarnya.

Dalam kenyataannya walaupun suatu kegiatan bersifat sungguh-sungguh masih juga sulit untuk dipisahkan antara bekerja dan bermain. Sesuatu kegiatan dapat dinilai lebih banyak mengandung nilai bekerja atau lebih banyak bermain.

Bermain dalam tatanan sekolah dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas, bermain dengan  bimbingan dan berakhir pada bermain dengan diarahkan. Dalam bermain bebas dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan bermain di mana anak mendapat kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka dapat memilih bagaimana menggunakan alat-alat tersebut. Sedangkan kegiatan bermain dengan bimbingan guru memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna menemukan suatu konsep (pengertian) tertentu. Apabila tujuannya melakukan klasi­fikasi benda dalam ukuran tertentu (besar, kecil), maka guru akan menye­diakan sejumlah mainan yang dapat diklasifikasikan dalam kelompok yang berukuran besar atau yang kecil. Dalam bermain yang diarahkan (guru mengajarkan bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas yang khusus. Menyanyikan suatu lagu bersama bermain jari dan bermain dalam lingkaran adalah contoh dari bermain yang diarahkan.

Berbagai Bentuk Bermain

Melalui kegiatan bermain yang dilakukan anak, seseorang akan men­dapat gambaran tentang tahap perkembangan dan kemampuan umum si anak. Bentuk-bentuk bermain tersebut antara lain meliputi : bermain sosial, bermain dengan benda, bermain sosio dramatis.

Bermain Sosial

Peran orang tua atau guru yang mengamati cara bermain anak, akan memperoleh kesan bahwa partisipasi anak dalam kegiatan bermain dengan teman-temannya masing-masing akan menunjukkan derajat partisipasi yang berbeda. Parten (2015) menjelaskan berbagai derajat partisipasi anak dalam kegiatan bermain, dapat bersifat soliter (bermain seorang diri). Bermain sebagai penonton, bermain parallel  bermain asosiatif dan bermain bersama.

 Bermain Seorang Diri

Anak bermain tanpa menghiraukan apa yang dilakukan anak lain di sekitarnya. Mungkin anak menyusun balok menjadi menara dan ia tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh anak lain yang berada di ruangan yang sama.

Bentuk bermain di mana anak hanya sebagai penonton saja

Anak bermain sendiri sambil melihat anak lain bermain di dalam ruang yang sama. Mungkin anak berbicara dengan teman-teman. Mungkin setelah anak mengamati anak lain lalu bermain sendiri. Anak yang berlaku sebagai penonton, mungkin hanya duduk secara pasif, sementara anak-anak di sekitarnya aktif bermain, tetapi anak tersebut tetap waspada terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Bermain paralel

Kegiatan bermain yang dilakukan sekelompok anak dengan menggunakan alat permainan yang sama, tetapi masing-masina anak bermain sendiri-sendiri. Apa yang dilakukan seseorang tidak tergantung anak yang lain. Mereka biasanya bicara satu sama lain, tetapi apabila seseorang meninggalkan tempat, yang lain tetap melanjutkan kegiatan bermain.

Bermain asosiatif

Kegiatan bermain di mana beberapa orang anak bermain bersama,  tetapi tidak ada suatu organisasi (pengaturan). Beberapa anak mungkin memilih bermain sebagai penjahat, dan lari mengitari halaman, sedang anak lain lari mengejar anak yang menjadi penjahat secara bersama-sama. Apabila satu anak berhenti mengejar, yang lain tetap lari dan mengejar.

Bermain kooperatif

Masing-masing anak memiliki peran tertentu guna mencapai tujuan kegiatan bermain. Misalnya anak-anak bermain toko-tokoan. Ada anak yang menjadi penjual barang-barang tertentu, sedangkan yang lain menjadi pembelinya. Apabila ada anak yang menolak peran tertentu, kemungkinan kegiatan bermain tersebut tidak jadi dilakukan.

Anak-anak dari berbagai kelompok usia akan menunjukkan tahapan perkembangan bermain sosial yang berbeda-beda. Anak yang masih sangat muda secara kognitif tidak akan dapat menerima berbagai peran dalam bermain kooperatif. Mereka belum pernah mendapat informasi yang luas tentang berbagai peran atau belum memiliki keterampilan sosial dalam bermain secara berkelompok.

Bermain soliter

Kegiatan bermain di mana anak tanpa memperhatikan apa yang dilakukan anak lain yang ada di dekatnya. Mungkin anak sedang membuat menara dari balok-balok dan anak sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikerjakan anak lain yang berada dalam satu ruang.

 Bermain sebagai penonton/pengamat

Kegiatan bermain anak yang sedang bermain sendirian, sekaligus melakukan pengamatan apa yang terjadi dalam ruang di mana ia berada. Mungkin anak tersebut juga melakukan pembicaraan dengan temannya. Setelah anak mengamati anak lain yang juga sedang bermain, melihat apa yang telah ia lakukan sendiri dengan hasil yang telah ia buat. Selama anak bermain sebagai penonton ini mungkin kelihatan pasif, sementara anak lain di sekitarnya bermain, tetapi mereka sangat peduli dengan tingkah laku anak-anak yang berada dalam ruang tersebut.

Bermain paralel

Di mana beberapa anak bermain dengan materi yang sama, tetapi masing-masing bekerja sendiri. Apa yang dilakukan seorang anak tidak tergantung pada yang dikerjakan anak lain. Anak-anak yang mengerjakan puzzle biasanya merupakan contoh bermain paralel. Masing-masing anak biasanya bicara satu sama lain tetapi apabila seseorang meninggalkan ruang, yang lain akan tetap bermain dengan mainannya.

Bermain asosiatif

Di mana beberapa anak bermain bersama-sama, tetapi tanpa suatu organisasi. Mungkin beberapa anak menghendaki bermain sebagai binatang buas yang mengejar anak-anak lain di halaman sekolah; tetapi tidak ditentukan peran masing-masing anak, jadi apabila salah seorang anak tidak lari, yang lain tetap memainkan kegiatan tersebut.

Bermain kooperatif

Dimana masing-masing anak menerima peran yang diberikan, dan dalam mencapai tujuan bermain, mereka masing-masing melakukan perannya secara tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan bermain. Misalnya anak-anak ingin bermain toko-tokoan. Seorang anak harus berperan sebagai pelayan, dan yang lain sebagai pembelinya. Apabila pelayan toko tersebut menolak atau berhenti, maka kegiatan bermain tersebut akan berakhir.

 

 Bermain dengan Benda

Piaget (2017) mengemukakan bahwa ada beberapa tipe bermain dengan objek yang meliputi bermain praktis, bermain simbolik, dan permainan dengan peraturan-peraturan.

Bermain praktis, adalah bentuk bermain, di mana pelakunya me­lakukan berbagai kemungkinan mengeksplorasi objek yang dipergunakan. Misalnya anak bermain dengan kartu-kartu. Ada beberapa kemungkinan untuk memainkannya. Kartu-kartu tersebut dapat diletakkan berdiri seakan menjadi pagar atau dinding. Memainkan kartu dengan mengguna­kannya dalam fungsinya yang lain (bukan sebagai kartu tetapi sebagai pagar/dinding) berarti anak menggunakan kartu-kartu secara simbolik. Dalam hal ini dikatakan bahwa anak bermain simbolik. Dalam bermain simbolik tersebut, anak menggunakan daya imajinasinya. Dapat pula dipergunakan batu bata dan dibuat menara. Suatu permainan dapat dimainkan dengan peraturan yang dibuat sendiri. Bagaimana cara anak menggunakan alat permainan dengan membuat peraturan tertentu ter­gantung pada kematangan dan pengalaman anak. Makin matang seorang anak, makin meningkat kemampuan anak menggunakan alat permainan secara simbolik serta memainkannya sesuai dengan peraturan yang ada. Contoh: Alat permainan Kartu Kwartet. Bila anak masih pada tahapan bermain praktis, kartu-kartu hanya dilihat-lihat saja. Kalau anak sudah pada tahapan bermain simbolik, kartu-kartu diumpamakan sebagai pagar-pagar atau dinding-dinding ruangan. Kalau anak sudah sampai tahapan bermain-main dengan suatu peraturan, maka anak sudah dapat bermain kwartet yang disertai peraturan-peraturan tertentu.

 

Bermain Sosio-Dramatik

Bermain sosio-dramatik banyak diminati oleh para peneliti. Smilansky (2019), mengamati bahwa bermain sosio-dramatik memiliki beberapa elemen:

  1. Bermain dengan melakukan imitasi. Anak bermain pura-pura dengan melakukan peran orang di sekitarnya, dengan menirukan tingkah laku dan pembicaraannya.
  2. Bermain pura-pura seperti suatu objek. Anak melakukan gerakan dan menirukan suara yang sesuai dengan objeknya, misalnya, anak pura-pura menjadi mobil sambil lari dan menirukan suara mobil.
  3. Bermain peran dengan menirukan gerakan. Misalnya: bermain menirukan pembicaraan antara guru dan murid atau orang tua dengan anak.
  4. Persisten. Anak melakukan kegiatan bermain dengan tekun sedikitnya selama 10 menit.
  5. Interaksi. Paling sedikit ada dua orang dalam satu adengan.
  6. Komunikasi verbal. Pada setiap adengan ada interaksi verbal antaranak yang bermain.

Bermain sosio-dramatik sangat penting dalam mengembangkan kreativitas, pertumbuhan intelektual, dan keterampilan sosial. Tidak semua anak memiliki pengalaman bermain sosio-dramatik. Oleh karena itu para guru diharapkan memberikan pengalaman dalam bermain sosio-dramatik ini.

 

Perkembangan Tingkah Laku Bermain

Bermain pada bayi bersifat sensorimotor. Bayi menjelajahi benda maupun manusia yang ditemuinya. Bayi selalu berusaha menyelidiki akhir dari perilakunya terhadap benda atau manusia yang dihadapinya. Pada akhir dan ulang tahunnya yang pertama, anak mulai menunjukkan kegiatan bermain misalnya, pura-pura makan atau tidur (Munandar, 2016). Anak-anak juga mulai bermain dengan orang lain misalnya bermain cilukba.

Anak usia prasekolah biasanya bermain dengan menggunakan alat permainan, tetapi dengan bertambahnya usia maka kegiatan bermain dengan benda-benda menurun. Pada akhir usia prasekolah, anak-anak biasanya melakukan bermain konstruktif, bermain membuat suatu bentuk atau bangunan. Benda-benda yang ditemui akan diperlakukan secara simbolis atau bermain dengan beberapa aturan.

Anak-anak usia prasekolah biasanya bermain dengan mengeluarkan banyak tenaga, misalnya lari, kejar-kejaran, bermain perang-perangan. Makin meningkatnya kematangan  anak, tidak perlu bermain dengan hadirnya alat permainan. Anak-anak yang telah berusia 3 tahun dapat melakukan permainan yang menggambarkan peran anggota keluarga. Anak yang lebih matang mampu menirukan peran orang-orang di luar keluarga.

Pada saat anak menginjak usia sekolah, bermain sosio-dramatis menurun secara drastis. Sedangkan bermain yang disertai peraturan, menunjukkan anak mencapai tahapan konkret operasional (7-12 tahun). Bermain pura-pura telah mulai jarang dilakukan anak, pada masa ini lebih banyak dilakukan bermain sandiwara dengan cara memainkan berbagai peran. Pada tahapan tersebut dapat ditemui anak-anak mulai banyak melakukan kegiatan bermain kompetisi yang menggunakan keterampilan bahasa dan kecerdasan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Brewer, J.N., 1992, Early Childhood Education. Boston: Allyn and Bacon.

Kamil, C. & Linda, L.J, 2016, Young Children Continue to Reinvent Arithmetic - 2nd Grade. Implications of Piaget’s Theory, New York: Teachers College Press.

Munandar, S.C.U, 2016, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: PT Gramedia.

Piaget, K.D., & Bracken, B.A. (2017). The Psycho Educational Asess­ment of Preschool Children. U.S.A.: The Psychological Corpora­tion Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Parten, M.B, 2015, Social Participation Among Preschool Children. Journal of Abnormal and Social Psychology, 27, 243-269.