Beberapa Alternatif Program Pendidikan Anak PraSekolah

BEBERAPA ALTERNATIF PROGRAM PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH

Oleh: Bisri Mustofa, S.Sos, M.I.P

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta

 

Berbagai Rancangan Program Pendidikan Prasekolah

Perkembangan pendidikan prasekolah tidak hanya terjadi di negara-negara yang telah maju saja, tetapi juga di negara yang sedang membangun. Berbagai macam pelayanan pendidikan prasekolah ditemukan di sekitar kehidupan kita, baik  yang diselenggarakan oleh pihak pemerintah maupun oleh pihak swasta, baik yang langsung menjangkau anak didik atau melalui pemberian pelatihan kepada para ibu atau sekaligus yang men­jangkau anak dan ibunya. Hal tersebut membuktikan betapa pentingnya pendidikan untuk anak prasekolah.

Dalam bagian ini akan diketengahkan berbagai alternatif program pendidikan untuk anak prasekolah baik yang diselenggarakan di sekolah maupun yang di luar sekolah, yaitu taman kanak-kanak, tempat penitipan anak, program Bina Keluarga dan Balita, HIPPY, Head star, sekolah luar biasa.

Dalam pendidikan formal seperti kindergerten atau taman kanak-kanak, pengajarnya adalah orang-orang yang memang telah mendapat pendidikan khusus, tetapi di dalam pendidikan non formal yang diseleng­garakan masyarakat setempat, pengajarnya atau pelatihnya bukanlah selalu orang yang mempunyai latar belakang pendidikan guru.

Minat mengembangkan pendidikan prasekolah bersumber dari 5 macam pemikiran, yaitu:

  1. Meningkatnya tuntutan terhadap pengasuhan anak dari para ibu yang bekerja, yang berasal dari berbagai tingkatan sosial ekonomi.
  2. Adanya perhatian yang dikaitkan dengan produktivitas, persaingan yang bersifat internasional, permintaaan tenaga kerja yang bersifat global, kesempatan kerja yang luas baik bagi wanita maupun bangsa manapun.
  3. Pandangan bahwa pengasuhan anak sebagai suatu kekuatan utama guna membantu para ibu untuk meningkatkan kualitasnya baik sebagai ibu maupun sebagai sumber daya manusia pada umumnya, sehingga dapat bersaing dalam pasar tenaga kerja.
  4. Adanya hasrat untuk meningkatkan kualitas anak sejak usia dini terutama bagi mereka yang orang tuanya kurang beruntung, antara lain yang kurang mampu memasukkan anak ke TK.
  5. Program untuk anak usia dini mempunyai dampak positif yang panjang terhadap peningkatan kualitas perkembangau anak

 

Day Care/Tempat Penitipan Anak (TPA)

Day care adalah sarana pengasuhan anak dalam kelompok, biasanya dilaksanakan pada saat jam kerja. Day care merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh anak-anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. Dalam hal ini pengertian Day Care hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orang tua dan bukan sebagai pengganti asuhan orang tua (Perserikatan Bangsa-Bangsa, 1990).

Sarana penitipan anak ini biasanya dirancang secara khusus baik program, staf maupun pengadaan alat-alatnya. Tujuan sarana ini untuk membantu dalam hal pengasuhan anak-anak yang ibunya bekerja. Semula sarana penitipan anak diperuntukkan bagi ibu dari kalangan keluarga yang kurang beruntung, sedangkan sekarang sarana ini lebih banyak diminati oleh keluarga tingkat menengah dan atas yang umumnya disebabkan kedua orang tuanya bekerja.

Dari hasil rapat koordinasi Usaha Kesejahteraan Anak Kementerian Sosial Republik Indonesia, dikemukakan pengertian Tempat Penitipan Anak (TPA) sebagai berikut:

Lembaga Sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak balita yang dikhawatirkan akan mengalami hambatan dalam pertumbuh­annya, karena ditinggalkan orang tua atau ibunya bekerja. Pelayanan ini diberikan dalam bentuk peningkatan gizi, pengembangan intelektual, emosional dan sosial.

Pada kenyataannya dari lapangan ada beberapa alasan dari para ibu yang menyerahkan anaknya kepada TPA, antara lain:

- Kebutuhan untuk melepaskan diri sejenak dari tanggung jawab dalam hal mengasuh anak secara rutut.

- Keinginan untuk menyediakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan teman seusianya dan tokoh pengasuh lain.

- Agar anak mendapat stimulasi kognitif secara baik.

- Agar anak mendapat pengasuhan pengganti sementara ibu bekerja.

 

Menurut Newman & Newman (2016) keuntungan TPA adalah:

-  Lingkungan lebih memberikan rangsangan terhadap panca indra.

- Anak-anak akan memiliki ruang bermain (baik di dalam maupun di luar ruang) yang relatif lebih luas bila dibandingkan rumah mereka sendiri.

- Anak-anak lebih memiliki kesempatan berinteraksi atau berhubungan dengan teman sebaya yang akan membantu perkembangan kerjasama dan keterampilan berbahasa.

- Para orang tua dari anak-anak mempunyai kesempatan saling ber­interaksi dengan staf TPA yang memungkinkan terjadi peningkatan keterampilan dan pengetahuan dan tata cara pengasuhan anak.

- Anak akan mendapat pengawasan dari pengasuh yang bertugas.

- Pengasuh adalah orang dewasa yang sudah terlatih.

- Tersedianya beragam peralatan rumah tangga, alat permainan, pro­gram pendidikan dan pengasuh serta kegiatan yang terencana.

- Tersedianya komponen pendidikan seperti anak belajar mandiri, ber­teman dan mendapat kesempatan mempelajari berbagai keterampilan.

 

Adapun Newman & Newman (2016) mengemuka­kan bahwa kelemahan TPA adalah sebagai berikut:

- Pengasuhan yang rutin di TPA kurang bervariasi dan sifatnya kurang memperhatikan pemenuhan kebutuhan masing-masing anak secara pribadi karena pengasuh kurang memiliki waktu yang cukup. Anak-anak ternyata seringkali kurang memperoleh kesempatan untuk mandiri atau berpisah dari kelompok.

- Sosialisasi lebih mengarah pada kepatuhan daripada otonomi. Para orang tua cenderung melepaskan tanggung jawab mereka sebagai pengasuh kepada TPA.

- Kurang diperhatikan kebutuhan anak secara individual.

- Berganti-gantinya pengasuh yang seringkali menimbulkan kesulitan pada anak untuk menyesuaikan diri dengan pengasuh.

- Anak mudah tertular penyakit dari orang lain.

Tempat Penitipan Anak seperti yang tersebut di atas sudah ber­kembang di Indonesia. TPA ini dikategorikan dalam 5 (lima) macam sesuai dengan tempat penyelenggaraannya: (1) TPA perkantoran; (2) TPA lingkungan atau perumahan; (3) TPA industri, yang tempat penyeleng­garaannya di kawasan industri atau dengan perusahaan di mana ibubekerja: (4) TPA perkebunan, yang umumnya diselenggarakan oleh pihak pemilik perkebunan: (5) TPA pasar, yang diselenggarakan di lingkungan pasar, di mana ibu-ibu mereka berdagang.

Di Amerika dikenal TPA yang berbentuk rumah keluarga. Pemilik rumah yang berperan sebagai pengasuh anak dalam jumlah yang kecil. Umumnya sarana tersebut diselenggarakan oleh orang tua yang merasa tidak puas dengan suasana day care yang kurang hangat dan jauh dari suasana kekeluargaan. Sedangkan dengan day care model ini, suasana kekeluargaan dan kehangatan masih diperoleh. Sikap tersebut membukti­kan bahwa pengasuhan untuk anak usia dini perlu menekankan kedua unsur tersebut. Umumnya yang ada di TPA keluarga tersebut ialah anak yang berusia 1,6 - 2,6 tahun. Keuntungan TPA bentuk rumah keluarga ini adalah:

- Suasana rumah dirasakan oleh anak tidak terlalu berbeda dengan rumah sendiri.

- Anak akan memperoleh kesempatan berinteraksi deagau satu pengasuh saja tidak berganti-ganti.

- Anak akan memperoleh kesempatan berinteraksi dengan teman yang usianya bervariasi.

- Melalui kehangatan lingkungan rumah, pengasuhan anak memperoleh stimulasi yang diperoleh dan dipelajari melalui kegiatan serta kebiasaan rumah sehari-hari.

- TPA yang bergaya rumah keluarga ini didasari suasana pengasuhan yang tidak jauh berbeda dengan keluarga dari mana anak berasal.

Sarana yang tersedia tidak banyak berbeda dari rumah asal, sehingga menimbulkan perasaan nyaman.

- Biasanya sarana TPA semacam itu tidak terdaftar secara resmi.

- Program yang baku tidak ada dan aktivitasnya kurang bervariasi.

Pusat Pengembangan Anak yang Terintegrasi

Pusat ini biasanya memberikan berbagai pelayanan yang dibutuh­kan anak dengan cara mengkombinasikan sarana pendidikan prasekolah dengan pemberian gizi, kesehatan dan kadang-kadang dengan sarana-sarana yang lain dalam pusat tersebut. Dari berbagai kepustakaan ditemukan berbagai variasi bentuk sarana seperti tersebut dari berbagai negara, antara lain:

Di Columbia, Amerika Selatan sejak tahun 1974 diselenggarakan pendidikan prasekolah yang dikombinasikan dengan program pemberian gizi, dan kesehatan, guna mendukung perkembangan fisik, aspek kecerdasan, sosial dan emosi anak. Pusat tersebut menyediakan perawatan kesehatan oleh seorang dokter anak dan anak diberi makan tiga kali sehari selama 5 hari dalam seminggu. Umumnya dalam pusat pelayanan tersebut para orantua tidak berpartisipasi.

Di India terdapat sarana perkembangan anak yang teritegrasi dengan biaya penyelengaraannya relatif murah. Sarana ini mula-mula diselenggarakan oleh pemerintah dalam tahun 1975, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup anak usia 0-6 tahun. Para orang tua mereka hidup di daerah perkotaan yang kumuh dan pedesaan, juga menjangkau kaum minoritas. Pelayanan yang diberikan berupa pemberian rangsangan kecerdasan, sosial dan emosional juga pemberian makanan bergizi, imunisasi, vitamin A dan kadang-kadang ada kegiatan untuk mendidik para ibu.

Dampak dari program ini adalah menekan angka kematian bayi. Kekurangan gizi yang berat, angka jumlah anak yang tidak naik kelas di sekolah dasar tidak bertambah (Tanyong, 2016).

Di Brazillia bentuk sarana untuk anak prasekolah sedikit berbeda. Sarana ini lebih diperuntukkan anak usia 4-6 tahun. Sarana yang terintegrasi berupa: pemberian makanan, vitamin, kegiatan psiko motor dan sarana kesehatan (pemeriksaan kesehatan umum, gizi, vaksinasi dan pemeriksaan penampilan wajah).

Pelatihan ini dilaksanakan oleh guru-guru Taman Kanak-Kanak yang dilatih dengan dibantu oleh ibu-ibu relawan secara bergilir. Para pelatih maupun ibu relawan ini mendapat gaji 70% dari gaji di pemerintah, dengan 3 hari kerja dalam seminggu.

Di Indonesia dikenal pula pelayanan yang terintegrasi dengan baik seperti di Columbia, India maupun yang terdapat dl Brazilia. Pelayanan tersebut dikenal sebagai Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Sarana yang diberikan di pos tersebut selain makanan bergizi, imunisasi, penimbanaan, pemeriksaan kesehatan termasuk keluarga berencana, di beberapa tempat ada kegiatan stimulasi mental.

Pelatihnva semua adalah relawan yang bertugas sebagai kader, sebelumnya mendapat pelatihan sesuai dengan tugas yang dijalankan.

Pusat Kesehatan atau Gizi

Bentuk lain dari pelayanan untuk balita adalah pelayanan yang menekankan pada kesehatan. Pelayanan ini meliputi kesehatan ibu yang mengandung atau kesehatan janin yang berarti perkembangan anak sejak ada di dalam kandungan. Dalam pelayanan ini kesehatan ibu khususnya wanita menjadi tujuan utama. Para ibu hamil mendapat perhatian melalui pemeriksaan berkala, khususnya pada tiga bulan terakhir.

Di Jamaika, dikembangkan suatu pusat gizi, kegiatannya adalah meningkatkan gizi anak dan memperbaiki hubungan orang tua/ibu-anak. Hasilnya berat badan mereka cepat naik dan juga kecerdasan mereka. Ternyata kenaikan kondisi anak lebih cepat ketika diadakan kunjungan rumah oleh para penyuluh.

Di Peru kegiatan peningkatan gizi anak disertai dengan menyeleng­garakan dapur masyarakat. Gambaran dapur masyarakat ini adalah sebagai berikut: (1) para wanita secara sukarela melakukan kegiatan memasak makanan bersama; (2) makanan yang dimasak memiliki kadar gizi yang baik karena diberi bimbingan oleh seorang ahli; (3) harga makanan relatif menjadi murah, karena bahannya mereka beli bersama. Makanan tersebut dimakan bersama di tempat masak atau dibawa pulang.

Dibandingkan dengan pendidikan Taman Kanak-Kanak dalam bentuk pendidikan alternatif untuk anak prasekolah ini umumnya tidak berbentuk sekolah, peralatan yang dipergunakan juga tidak semahal di Taman Kanak-Kanak yang umumnya mempersiapkan anak untuk masuk sekolah dasar.

Pengasuh di dalam bentuk alternatif dipimpin oleh pengasuh yang biasanya mendapat pelatihan dalam waktu singkat, sedangkan di Taman Kanak-Kanak guru adalah seorang ahli yang mendapat pendidikan khusus. Di Taman Kanak-Kanak umumnya sarana kesehatan dan gizi tidak banyak mendapat perhatian seperti sarana pendidikan lain yang paling banyak diselenggarakan oleh masyarakat dan negara yang sedang berkembang.

 

 Pendidikan dengan Anak Prasekolah

Walaupun sarana ini sebenarnya akan menjangkau anak prasekolah tetapi orang tua khususnya ibu sebagai subjek perantaranya. Para ibu yang memiliki anak balita mendapat penyuluhan sehingga pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengasuh anak akan meningkat. Umumnya sarana pendidikan ini diselenggarakan oleh masyarakat dari negara yang sedang berkembang atau pendidikan yang diberikan kepada kaum minoritas atau mereka yang kurang beruntung.

Penyelenggaraan sarana pendidikan tersebut menganut prinsip pendidikan orang dewasa yang biasanya berpendidikan dan status ekonominya kurang menguntungkan. Dengan demikian bahan pelajaran, alat bantu dan metode penyampaiannya disesuaikan dengan kondisi ibu atau peserta latihan.

Terdapat beberapa bentuk kerja sama dengan para orang tua, yaitu melalui pendidikan orang tua sebagai pendidik akan menghasilkan beberapa keuntungan, antara lain:

- Baik orang tua (sebagai pengasuh) maupun anak akan beruntung. Program pendidikan anak melalui latihan orang tua akan mempunyai nilai positif bagi kedua belah pihak. Nilai positif ini akan tercermin dalam sikap niaupun tingkah laku yang mengesankan adanya peningkatan kepercayaan diri bagi kedua belah pihak.

- Pertanggungjawaan keluarga diperkuat. Umumnya keluarga bertanggungjawab terhadap pendidikan dan pengasuhan anak Pro­gram yang langsung mendidik dan mengasuh anak yang dilakukan oleh seorang pengasuh (bukan orang tua) akan mengalihkan tanggungjawab para orang  tua. Dengan mendidik orang tua berarti peran dan tanggung jawab orang tua menjadi lebih baik.

- Memberi kekuatan para orang tua yang bersifat jangka panjang. Pemberian pengetahuan dan keterampilan yang mantap tentang pendidikan dan pengasuhan anak akan mengubah pengetahuan, sikap para orang tua sebagai pendidik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Munandar, S.C.U, 2017, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: PT Gramedia.

Newman, B.M., & Newman, P.R, 2016, Infancy & Childhood, New York: John Wiley & Sons

Sudono, A, 2020, Pedoman Pendidikan Prasekolah. Jakarta: Grasindo.

Tangyong, A.F., et. Al, 2016, Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak, Jakarta: PT Gramedia.