Memahami Karakter Anak

Memahami Karakter Anak

Oleh: Bisri Mustofa, S.Sos, M.I.P

Penyuluh Sosial Muda Pada Dinas Sosial PPPA Kabupaten Kulon Progo

 

Seorang ibu muda  dengan wajah muram curhat kepada temannya, “Bu, kenapa anak saya bandel banget ya? Sama orang tua tidak mau nurut, malah sering melawan.” Ibu yang mendengarkan mempunyai cerita lain, ”Oh, anak saya tidak, dia menurut sekali sama orang tuanya, saya bangga padanya.” Dari kedua cerita ibu tersebut, tersirat sebuah makna bahwa karakter anak berbeda.

Karakter anak merupakan akhlak yang dibentuk oleh ayah bundanya. Masa pembentukan karakter yang paling penting adalah sejak anak lahir sampai berusia lima tahun, usia tersebut sering diistilahkan dengan usia emas (the golden age). Bahkan sebelum lahir pun (masih berada dalam kandungan), calon anak dapat dibentuk karakternya.

Begitu pentingnya usia emas bagi anak, banyak orang tua yang menghabiskan sebagian besar waktu dan hartanya untuk berusaha memahami betul apa dan bagaimana memanfaatkan waktu emas itu guna memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Semua dilakukan demi kebaikan dan untuk memaksimalkan potensi anak mereka. Dengan harapan, anak mempunyai karakter atau akhlak yang baik dan mendapat keberhasilan dalam kehidupannya.

Setiap anak lahir membawa fitrahnya. Anugerah dari Allah tersebut sama bagi semua manusia, artinya setiap manusia yang dilahirkan telah dianugerahi fitrah dasar kebaikan oleh Allah. Fitrah dapat berarti kesucian jiwa, pengakuan atas kemahaesaan Allah dan sifat atau karakter terpuji. Apakah fitrah dasar ini dikembangkan atau tidak, dioptimalkan atau justru direndahkan, semua tergantung pada usaha orang tuanya.

Fitrah berbeda dengan karakter. Fitrah adalah bawaan lahir. Anak yang dilahirkan ke dunia ini ibarat kertas putih, dia suci dan polos. Itulah fitrah manusia. Sementara itu, karakter adalah bagaimana orang tua dan keluarganya mencoret kertas putih tersebut. Apakah dicoret dengan warna kekerasan dan rasa dendam atau kebaikan demi kebaikan.

Untuk dapat mengoptimalkan karakter anak, perlu dipahami dulu bagaimana sebenarnya karakter anak. Secara umum, karakter anak terbagi menjadi tiga. Karakter anak yang baik dan mudah, anak yang tengah-tengah, dan anak yang sulit. Irawati Istadi dalam buku Mendidik dengan Cinta, membagi tipe anak menjadi tiga, yaitu anak yang mudah, anak yang perlu pemanasan, dan anak yang sulit. Apa dan bagaimana anak yang mudah, tengah-tengah dan yang sulit itu? Berikut ulasannya.

Pertama, anak yang mudah. Makna mudah pada karakter anak ini adalah mudah diarahkan, dikasih tahu, memahami perintah, bergaul dengan temannya, dan mewujudkan perilaku dari apa yang diketahuinya. Biasanya anak seperti ini memiliki keberanian dan terbuka. Ketika mendapatkan pertanyaan dari orang lain akan dijawab sesuai dengan apa yang dia tahu. Kalau berada di lingkungan baru, cepat beradaptasi dan tidak canggung bergaul dengan teman barunya.

Betapa senang orang tua yang memiliki buah hati berkarakter mudah seperti ini, tidak merepotkan, mudah mengarahkan dan mempunyai teman yang banyak. Ayah bundanya akan bangga melihat anaknya (yang masih berusia dini) selalu mandi tepat waktu tanpa dipaksa dan disuruh, mampu merapikan tempat tidurnya sendiri, berangkat sekolah tanpa didampingi, mengingatkan waktu shalat kepada orang tuanya, dan berbagai kepatuhan yang lain.

Anak berkarakter mudah lebih cenderung aktif dan tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Kalau tidak diperhatikan secara persuasif, akan menjadi bumerang bagi dirinya. Keaktifan yang tak terarah, akan mengakibatkan anak destruktif. Biasanya anak aktif berusaha mencoba hal yang baru, semisal memasukkan jarinya ke stop kontak listrik, ke dalam putaran kipas angin, dan lainnya. Adapun adaptasi yang mudah akan membuat anak menerima berbagai ragam dan corak karakter dari lingkungan barunya. Kalau tidak diarahkan, bisa jadi yang tadinya baik, karena pengaruh karakter dan pengalaman dari lingkungan barunya, anak akan mengikuti karakter yang baru tersebut.

Kedua, anak yang tengah-tengah. Anak tersebut tidak terlalu berani, tidak pula penakut. Kalau lingkungannya memberikan kepercayaan kepadanya, dia akan dapat menjadi anak yang sangat pemberani. Sebaliknya, kalau lingkungannya menolak karakternya, bisa jadi dia menjadi anak yang sangat penakut. Tugas orang tua adalah memberikan waktu dan pengarahan secukupnya sebagai pemanasan menuju karakter yang diinginkannya.

Pengarahan bukan paksaan. Anak yang tengah-tengah seperti ini, memerlukan waktu dan kesabaran. Dengan arahan yang tepat, anak yang tadinya diam ketika melihat teman barunya, tidak lama lagi akan cepat akrab dan beradaptasi. Kalaupun belum dapat beradaptasi, bukan berarti anak tersebut minder, hanya butuh waktu saja. Orang tua tidak boleh gusar karena lamanya anak beradaptasi, apalagi mengeluarkan kata-kata yang bernada menyindir, mengancam dan membandingkan dengan anak lain. Kata-kata seperti ”Itu si Raihan saja pintar, kenapa kamu tidak bisa?” akan menjatuhkan mental anak.

Ketiga, anak yang sulit. Anak ini sangat sulit beradaptasi. Untuk dapat berteman dengan anak yang baru dikenalnya, dibutuhkan waktu yang lama. Anak sulit juga tidak menu­ruti apa yang disampaikan orang tuanya, dia mengalami disconecting. Orang tua menginginkan anaknya berbuat baik, tetapi dia justru melawan dan tidak mendengarkan apa yang disampaikan.

Dengan kondisi anak seperti itu, orang tua cenderung gemas, jengkel dan malu dengan orang lain. Anak yang sering “makan hati” tua itu mengakibatkan munculnya masalah demi masalah, di rumah, di lingkungan, di sekolah, bahkan ketika bertamu ke saudara, ada saja masalah yang ditimbulkan.

Sikap orang tua yang paling tepat dalarn menghadapi anak seperti ini adalah bersabar menunggu waktu. Hanya waktu yang dapat menyelesaikannya. Pemaksaan dan omelan akan membuat sakit hati saja. Bahkan pemilihan kata yang tidak tepat dalam menyikapi anak seperti ini hanya akan menghilangkan rasa percaya diri anak tersebut.

Sembari bersabar, orang tua harus berusaha mencari tahu penyebab mengapa anak tidak memenuhi keinginan orang tuanya. Misalnya dengan cara mencari informasi tentang tumbuh kembang anak lewat buku, seminar, internet dan teman. Langkah ini merupakan jalan yang baik demi menemukan permasalahan pada anaknya. Bisa jadi ketika anaknya tidak mau menyebut angka 1 sampai 10 disebabkan tertekan, bukan karena tidak mengetahui hitungan itu.

Penyebab anak mempunyai perilaku sulit adalah kurang­nya keberanian dan belum dibiasakan bersosialisasi dengan lingkungan. Bisa jadi faktor keturunan juga mempunyai peran yang kuat dalam membentuk perilaku anak seperti ini. Orang tua haruslah sabar dalam memberikan pengertian, membiasakan perilaku baik, memotivasi, dan meningkatkan keberanian anak.

Selain itu, orang tua juga harus memahami jenis kepribadian pada manusia umumnya dan anak khususnya.

Menurut Hipocrates dan Galen, ada empat jenis kepribadian pada manusia, yaitu:

  1. Kepribadian kholeris. Kepribadian ini mempunyai sifat umum ekstrovert, pelaku dan optimistis. Seseorang dengan kepribadian kholeris memiliki kekuatan-kekuatan: Emosi: berbakat sebagai pemimpin, dinamis dan aktif, harus memperbaiki kesalahan, berkemauan kuat dan tegas, tidak emosional, optimistis, bebas dan mandiri, serta meyakinkan. Sebagai orang tua: memberikan kepemimpinan yang kuat, menetapkan tujuan, memotivasi keluarga dan mengorganisasi keluarga. Dalam pekerjaan: berorientasi target, objektif, terorganisasi dengan baik, mencari pemecahan praktis, reaktif, pendelegasi, dan bergerak karena tantangan. Sebagai teman: tidak terlalu memerlukan teman, mau memimpin dan mengorganisasi, biasanya selalu benar, dan unggul dalam keadaan darurat. Kelemahan pada pribadi kholeris adalah sering menyalahkan orang lain, terlalu bekerja keras, tidak tahu bagaimana menangani orang lain.
  2. Kepribadian melankolis, dengan sifat umum introvert, pemikir, dan pesimistis. Orang yang berkepribadian me­lankolis memiliki kekuatan-kekuatan: Emosi: mendalam dan penuh pikiran, analitis, serius dan tekun, cenderung jenius, berbakat dan kreatif, artistik dan musikal, filosofis dan puitis, perasa, suka berkorban, penuh kesadaran, dan idealis. Sebagai orang tua: menetapkan standard tingkat perfeksionis, suka kerapian, pendorong kecerdasan dan bakat. Dalam pekerjaan: berorientasi jadwal, perfeksionis, standard tinggi, gigih dan cermat, tertib dan terorganisasi,teratur dan rapi, ekonomis, menyukai diagram, grafik, bagan, dan daftar. Sebagai teman: hati-hati dalam berteman, puas dengan latar belakang, menghindari perhatian, setia dan berbakti, mau mendengarkan keluhan, problem solving yang baik, perhatian, dan peka. Kelemahan yang terdapat pada pribadi melankolis adalah mudah tertekan, punya cinta diri rendah, suka menunda-nunda, dan mengajukan tuntutan yang tidak realistis kepada orang lain.
  1. Kepribadian phlegmatis secara umum memiliki sifat-sifat introvert, pengamat dan pesimistis. Seseorang dengan kepribadian ini memiliki kekuatan-kekuatan: Emosi: rendah hati, mudah bergaul dan santai, diam dan tenang, sabar dan baik keseimbangannya, konsisten, cerdas, simpatik dan baik hati, menyembunyikan emosi, dan bahagia menerima kehidupan. Sebagai orung tua: menjadi orang tua yang baik, menyediakan waktu untuk anak-anak, tidak tergesa-gesa, biasa mengambil yang baik dari yang buruk, dan tidak mudah marah. Dalam pekerjaan: cakap dan mantap, damai dan mudah sepakat, punya kemampuan administratif, menjadi penengah masalah, menghindari konflik, dan baik di bawah tekanan. Sebagai teman: mudah diajak bergaul, menyenangkan, tidak suka menyinggung, pendengar yang baik, selera humor yang tinggi, suka mengawasi orang, punya belas kasihan dan perhatian kepada orang lain. Kelemahan yang terdapat pada pribadi phlegmatis adalah seperti tidak mempunyai masalah, melawan perubahan, tampak malas, berhati baja yang tenang, dan tampak tidak berpendirian.
  2. Kepribadian sanguinis, dengan sifat umum ekstrovert, retorik, dan optimis. Seseorang dengan kepribadian ini memiliki kekuatan-kekuatan sebagai berikut: Emosi: kepribadian yang menarik, suka membaca dan berbicara, rasa humor yang hebat, ingatan kuat untuk warna, emosio­nal dan demonstratif, antusias dan ekspresif, periang dan penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, lugu dan polos, berhati tulus dan selalu bersifat kekanak-kanakan. Sebagai orang tua: membuat rumah terasa menyenangkan, disukai teman, anak-anak, dan humoris. Dalam pekerjaan: suka menjadi relawan dalam tugas, kreatif, inovatif, berenergi dan antusiasme, berpikir cemerlang, dan provokatif. Sebagai teman: mudah berteman, mencintai orang lain, suka dipuji, bukan pendendam, cepat minta maaf, suka kegiatan spontan. Adapun kelemahan pada pribadi ini ialah tidak ada tindak lanjut dari suatu konsep, seseorang yang tanpa kesalahan (mereka tidak percaya bahwa ia mempunyai kesalahan besar), tidak menerima diri dengan serius, banyak berbicara, egois, punya ingatan yang belum dikembangkan, tidak konsisten, pelupa, penyela dan menjawab untuk orang lain, tidak tertib dan tidak dewasa.

Dengan memahami jenis kepribadian yang ada pada anak, kita akan mudah menentukan arah dan tujuan pendidikan anak-anak kita. Semakin tepat kita mengarahkan anak menuju tujuan yang kita dan anak inginkan, semakin berhasil pula tujuan besar kita, yaitu membentuk anak yang berperilaku mulia, mempunyai kecerdasan intelektual, emosional, dan spriritual.