Mempersiapkan Masa Depan Anak

Mempersiapkan Masa Depan Anak

 Oleh: Bisri Mustofa, S.Sos, M.I.P

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta

  

Pada artikel sebelumnya, kita telah memahami bagaimana karakter anak, dunia mereka, dan pentingnya usia emas. Dengan itu maka tugas dan tanggung jawab memberikan warna kehidupan buah hati kita amatlah penting. Apa yang kita lakukan pada waktu anak masih dalam usia emas ternyata sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak selanjutnya. Bahkan, kesuksesan hidup mereka juga ditentukan baik buruknya perlakuan kita terhadap anak di masa tersebut.

Kita ditakdirkan menjadi ayah bunda anak-anak kita. Menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab mulia yang Allah berikan kepada kita. Anak adalah amanah yang harus kita jaga dan bina mengikuti kehendak dan aturan­nya. Mengarahkan anak-anak untuk hidup dalam ajaran-Nya Adalah sebuah panggilan yang tak tergantikan.

Sayangnya, tugas mulia itu sering kali kita abaikan dan acuhkan. Padahal sebagai orang tua, kita harus mengerti arah ataupun rencana seperti apa yang perlu kita siapkan bagi anak-anak. Bisa jadi, ketidakmengertian itulah yang membuat tugas kita sebagai orang tua seakan tidak berjalan maksimal. Kadang dalam mengemban amanah tersebut kita menunaikannya asal-asalan saja. Tidak berusaha mencari informasi bagaimana mendidik anak dan belajar mempersiapkan masa depan mereka dengan baik.

Memang, mendidik anak tidak semudah melahirkan anak. Mendidik memerlukan pengetahuan yang tajam dan teliti. Salah mendidik akan berakibat fatal terhadap masa depan anak. Orang tua harus membekali diri dengan ilmu mendidik, ilmu psikologi, tugas tumbuh kembang anak dan pendidikan agama tentunya.

Ilmu seni mendidik anak memberikan gambaran yang komprehensif bagaimana mendidik anak yang benar dan mana sikap yang salah dalam mendidik anak. Ilmu psikologi bermanfaat untuk memberikan gambaran kondisi kejiwaan anak; kita akan mengetahui bagaimana memperlakukan anak yang aktif dan atau anak yang tidak aktif. Juga dapat memberikan gambaran tugas tunbuh kembang anak, sehingga step by step perkembangan fisik dan psikis anak dapat selalu kita pantau.

Juga yang paling penting adalah pengetahuan agama. Agar anak mempunyai akhlak dan budi pekerti yang mulia,orang tua harus mengetahui ilmu agama, terutama yang berhubungan dengan ajaran budi pekerti. Ajaran agama merupakan fondasi bagi seluruh aspek kehidupan anak. Dia boleh jadi dokter, polisi, jaksa, hakim, politisi, pejabat, pemimpin perusahaan dan pekerjaan apa saja, tapi semua itu dilandasi pengetahuan dan pengamalan agama yang kuat.

Nah, untuk mempersiapkan masa depan anak, berikut adalah langkah-langkah yang perlu ditempuh dan diperhatikan oleh orang tua. 

Pertama, mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh. Yaitu anak yang tak lekang oleh zaman dan tak lapuk oleh waktu. Dalam setiap kesempatan, anak selalu tampil dan memberikan yang terbaik untuk diri, keluarga, dan masyarakat. Menurut Hamka, pribadi yang tangguh adalah pribadi yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,

  1. Daya tarik. Ketertarikan jiwa orang lain yang dekat dengan pribadi yang bersangkutan sehingga timbul hubungan yang kekal dan tidak karena dipaksa atau terpaksa atau dengan sesuatu yang dibuat-buat. Orang lain tertarik kepada suatu pribadi dikarenakan budi yang tinggi, ke­sopanan, ilmu pengetahuan yang luas, kesanggupan me­nahan diri, kecerdasan, ketepatan menarik kesimpulan, pandai menjaga perasaan orang lain, dan mampu menenangkan diri.
  2. Kecerdikan. Yaitu dimaksudkan sebagai kemampuan berpikir verbal dan logis dalam perilaku sosial. Dapat pula diartikan sebagai kecerdasan, banyak pengetahuan, pengalaman, kosakata bahasa, cepat tanggap, dan menguasai kondisi diri.
  3. Tenggang rasa. Makna inti dari tenggang rasa adalah sebagai ungkapan empati terhadap orang lain yang sedang diajak berinteraksi. Tenggang rasa dapat pula diartikan sebagai rasa cinta kepada orang lain selayaknya ia mencintai dirinya sendiri, dan diwujudkan dengan perilaku sosial yang baik.
  4. Keberanian. Pribadi yang berani adalah pribadi yang sanggup menghadapi segala kesulitan dan bahaya dengan tidak kehilangan akal, yakni dengan kesadaran penuh dan berlandaskan pada pengetahuan atau ilmu. Keberanian menunjukkan indikasi kesanggupan manusia dalam menempuh hidup.
  5. Bijaksana. Pribadi seseorang dapat dikatakan bijaksana jika tepat pendapatnya, berpikir jauh ke depan, baik tafsirannya, mampu membedakan baik dan buruk, memahami situasi dan kondisi yang dihadapi, mempunyai visi dan misi yang jelas, serta adil dalam menghadapi keputusan.
  6. Berpikir positif. Manusia dengan pribadi tangguh dan punya pikiran positif adalah sosok yang memandang sesuatu dari segi yang baik (positif), sehingga selalu optimis dan memiliki komitmen kuat untuk maju dan berkembang guna melaksanakan dan meneruskan amanah Tuhan yang telah diberikan.
  7. Tahu diri. Secara bahasa, tahu diri adalah tawadhu’. Sedangkan makna tahu diri menurut Hamka adalah kesadaran atau insyaf perihal kedudukan (posisi) diri pribadi yang sebenarnya. Jadi, manusia tidak akan terlalu memandang ke atas dari apa yang dimilikinya, dan tidakpula terlalu memandang ke bawah kepada hal-hal yang telah dimilikinya.
  8. Kesehatan jasmaniah. Yaitu pribadi yang kuat, pribadi dengan fisik ataupun badan yang sehat. Artinya, pribadi yang kuat adalah manusia yang sadar untuk menjaga dan memanfaatkan apa yang telah dimilikinya secara optimal serta penuh dengan kasih dan sayang.
  9. Bijak.Yaitu kesanggupan untuk melahirkan (memaparkan) perasaan batin, ketangkasan berpendapat, dan sikap yang gembira.
  10. Percaya diri. Seseorang dianggap percaya diri jika telah memiliki rasa percaya atas kekuatan yang dimiliki, terhadap akal pikiran, perasaan (intuisi) dan kemauan (kehendak). Percaya diri ialah fondasi kemerdekaan pribadi sekaligus titik awal kesuksesan diri. Percaya diri itulah yang menimbulkan kekuatan tabiat, akhlak, dan budi pekerti.

Hal-hal tersebut bukan harga mati, idealnya seorang anak memang memiliki sifat Hal-sebagaimana di atas. Akan tetapi untuk mencapai anak yang ideal memerlukan usaha yang ekstra keras. Kita sebagai orang tua diwajibkan untuk berusaha, hasil akhir kita serahkan pada Yang Mahakuasa.

 

Kedua, menghindarkan anak dari perbuatan tercela. Anak semestinya diajarkan berperilaku yang baik. Jangan biarkan anak terjerumus dalam perilaku yang merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Di antara perilaku yang seharusnya dihindari dalam mendidik anak dan pada anak itu sendiri antara lain,

  1. Marah. Marah atau kemarahan berasal dari kata al-ghadhab artinya kemarahan. Al-Ghadhab ialah perubahan yang terjadi ketika mendidihnya darah di dalam hati untuk memperoleh atau meraih kepuasan apa yang terdapat di dalam dada. Eksistensi kemarahan menurut Imam ­Ghazali berada pada dua tempat, yaitu, 1) kemarahan yang berada di dalam diri manusia untuk menjaganya dari kerusakan dan untuk menolak kehancuran. Di dalam penciptaan manusia terdapat sesuatu yang panas dan sesuatu yang dingin, dan di antara kedua-duanya selalu bermusuhan dan bertentangan. 2). kemarahan dari luar diri manusia, yang disebabkan oleh terbenturnya manusia dengan kendala-kendala atau marabahaya.
  2. Dendam. Dendam ialah sifat atau sikap suka membalas atas rasa sakit yang telah diderita sebelumnya kepada orang yang telah menyakiti dengan cara menumpahkan kemarahan dan kepuasan hawa nafsu yang ada di dalam dada, atau sifat tidak senang memberikan maaf kepada orang lain yang telah menyakiti atau yang telah menimpa rasa tidak nyaman. Rasa dendam ini akan terpendam di hati seseorang seperti halnya rasa senang yang tertanam di dalam kalbu. Jika rasa dendam timbul karena rasa kecewa, sedangkan rasa senang timbul karena rasa simpati dan empati.
  3. Dengki. Dengki atau hasad adalah rasa atau sikap tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, dan berusaha untuk menghilangkan kenikmatan itu dari orang tersebut, baik dengan maksud supaya kenikmatan itu berpindah ke tangan sendiri maupun tidak. Pengertian lain dari dengki adalah keinginan seseorang untuk melihat kebangkrutan orang lain yang sudah sukses, kendati pelakunya tidak mampu mencapai kesuksesan (nikmat besar) yang sama seperti orang lain. Pendapat lain mengatakan bahwa dengki adalah sifat atau sikap tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dengan berupaya melakukan kejahatan kepadanya agar kenikmatan itu berpindah kepada dirinya, dan ia merasa senang apabila orang yang dirampas kebahagiaannya itu menderita. Biasanya, saat para pendengki itu sudah melakukan kedengkiannya, maka ia akan berupaya menjatuhkan orang lain dengan berbagai macam cara tanpa memedulikan akibat yang akan timbul dari perbuatannya tersebut.
  4. Sombong dan angkuh. Yaitu sikap menyombongkan diri karena merasa dirinya punya banyak kelebihan dan menganggap orang lain mempunyai banyak kekurangan. Kesombongan muncul karena merasa ada kelebihan pada dirinya dibandingkan orang lain baik dari aspek keturunan (etnis), limpahan kekayaan, ketinggian ilmu, ketekunan ibadah, atau sebab yang lain. Sikap sombong ditandai dengan hilangnya sikap rendah hati (tawadhu’) kepada orang lain, membanggakan diri (congkak) dan senang memperoleh pujian dari orang lain.
  5. Suka pamer. Dalam bahasa Arab disebut riya’ yaitu sikap atau sifat suka menonjolkan diri untuk mendapat pujian, yaitu memamerkan diri sebagai orang yang taat dan patuh kepada Allah dengan melakukan serangkaian ibadah. Namun hal itu dilandasi dengan niat mengharap pujian dan sanjungan dari orang lain, bukan karena ketulusan atau keikhlasannya. Jika seseorang mengenal Allah dengan baik, maka amalnya akan tulus. T'imbulnya riya’ karena seseorang kurang mengenal Allah, serta ingin diagungkan dan dipuji orang lain. Apabila dilihat dari penampilan, menurut Imam Ghazali, riya’dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu,1) Riya’ dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, seperti memperlihatkan kurusnya badan dan pucatnya wajah. 2) Riya’ dalam penampilan sosok tubuh dan pakaian, seperti membiarkan bekas sujud di dahi supaya dikatakan rajin ibadah, atau dengan memakai pakaian yang biasa dipakai orang-orang saleh agar dikatakan termasuk orang saleh. 3) Riya’ dalam perkataan, seperti selalu berbicara masalah agama supaya dikatakan orang bahwa ia ahli agama atau pencinta agama. 4) Riya’ dalam perbuatan, seperti sengaja memperbanyak shalat sunnah di hadapan orang supaya dikatakan orang saleh. 5) Riya’ dalam persahabatan, seperti sering memberati diri dengan mengiringi ulama supaya dikatakan orang bahwa ia termasuk orang yang alim.
  6. Bohong atau dusta. Dusta termasuk sesuatu hal yang didorong oleh hawa nafsu, karena besarnya hasrat manusia untuk memperoleh kedudukan yang tinggi. Sehingga ia lebih memprioritaskan diri sebagai pemberi tahu dan pembawa berita. Dan secara logika, pemberi tahu lebih superior daripada orang yang diberi tahu. Pendusta adalah sikap atau sifat suka berbicara yang tidak benar. Apa pun yang dikatakan hanya berupa kebohongan, yang bertujuan sengaja menyebarkan fitnah dan berita dusta kepada orang lain. Bahkan pendusta paling berat adalah orang yang dengan sengaja dan terang-terangan mendustakan ayat-ayat dan hukum-hukum Allah. Pendusta disebut juga orang yang munafik.
  7. Buruk sangka. Kata buruk, secara kebahasaan memiliki dua arti. Pertama, segala sesuatu yang buruk, kebalikan dari baik. Kedua, setiap sesuatu yang menghalangi manusia dari urusan-urusan dunia dan akhirat, baik berasal dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Dua arti kata buruk tersebut tidak bertentangan, sebab sesuatu yang buruk akan kembali kepada diri manusia itu sendiri yang mengakibatkan kesedihan dan keresahan jiwa. Adapun sangka yaitu ragu, tuduhan, perkiraan atau pengetahuan tanpa keyakinan, dan keyakinan itu sendiri.Seluruh arti kata tersebut tidak bertentangan satu sama lainnya. Semua merupakan gambaran tingkatan sangkaan dari yang paling bawah sampai paling atas. Jadi sangkaan adalah perkiraan, kekhawatiran, atau pikiran yang timbul karena ada penanda dan penghubung. Apabila penanda dan penghubung tersebut kuat, maka hasilnya adalah pengetahuan yang meyakinkan atau kepastian. Sebaliknya, apabila penanda dan penghubung itu lemah maka hal tersebut hanya akan menghasilkan keraguan, dugaan, atau pengetahuan yang tidak meyakinkan. Dari hal itu, dapat disimpulkan secara istilah bahwa buruk sangka adalah mengira atau menyangka orang lain memiliki satu sifat buruk dan menuduhnya dengan segala kejelekan tanpa bukti. Berprasangka buruk wajib dilakukan terhadap orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan merintangi jalan kebaikan, dan tidak memiliki komitmen yang jelas dalam agama.
  8. Kikir atau pelit. Orang yang menyimpan harta benda tidak bisa disebut pelit. Kadang-kadang manusia menyimpan harta bendanya karena ada keperluan, baik keperluan rutin tiap tahunnya atau untuk menyediakan keperluan anak-anak dan keluarga apabila keperluan tersebut datang mendadak. Semua itu termasuk hal yang harus dilakukan dan tidak tercela. Bahkan, ada orang yang memiliki ketahanan untuk menyimpan kekayaannya.Secara istilah, kikir memiliki dua pengertian: Pertama, berdasarkan istilah umum kikir berarti pelit terhadap harta. Saat disebutkan kata kikir, orang pasti akan mengartikannya sebagai sikap menahan harta dan tidak mau mendermakannya kepada orang lain. Kedua, berdasarkan istilah syariat, kikir berarti pelit terhadap semua kebaikan, baik harta maupun bukan, milik sendiri ataupun milik orang lain.
  9. Waswas. Waswas adalah bisikan halus yang mengandung rayuan dan bujukan untuk melakukan kejahatan dan pengingkaran terhadap Tuhannya. Bisikan tersebut sangat lembut ketika menyusup dalam hati sanubari seseorang. Sementara itu, ilmu jiwa modern menganggap waswas sebagai bagian dan gangguan saraf yang menjalar. Waswas adalah kegalauan pikiran dalam benak orang sakit tidak mampu dihindari, meskipun penderita tahu bahwa kegalauan tersebut tidak masuk akal dan bertentangan dengan hati nurani. Kegalauan itu semakin kuat dan mengganggu stabilitas emosinya, ketika ia berusaha menghilangkan hal itu dari benaknya. Ciri khas penderita waswas adalah mereka maniak pada aturan formal, ketelitian yang berlebihan, pelit, kikir, ragu, dan linglung. Selain itu, ia sangat fundamental dalam menerima nilai-nilai moral dan terlalu berlebihan dalam memproteksi kesehatan.
  10. Hilangnya rasa malu. Al-Jurjani berkata bahwa perasaan malu adalah perasaan tertekannya jiwa dari sesuatu, dan ingin meninggalkan sesuatu itu secara berhati-hati, karena di dalamnya ada sesuatu yang tercela. Al-Jurjani membagi malu menjadi dua bagian, yaitu: bersifat kejiwaan, seperti malu membuka aurat dan bersetubuh di depan orang lain; dan bersifat keimanan, seperti seorang yang beriman meninggalkan perbuatan maksiat karena takut kepada Allah.
  11. Zalim dan Bodoh. Orang zalim adalah orang yang berbuat dosa, walaupun hanya sekali. Atau orang yang sering melakukan perbuatan salah dan dosa. Adapun bodoh berarti orang yang sangat bodoh atau sama sekali tidak bijaksana. Apabila ada orang yang memukul orang lain atau merampok uangnya, maka pertama-tama ia membuat suatu kerugian terhadap dirinya, kemudian kepada orang lain. Berbuat dosa itu seperti minum air beracun. Bila seseorang minum racun, berarti ia menyakiti dirinya sendiri. Karena itu, logika yang sama dapat diterapkan bila ia merugikan orang lain.
  12. Melanggar batas. Manusia merasa dirinya serba ber­kecukupan bila mereka kaya, sehat, dan memiliki kedudukan yang berarti di lingkungan masyarakatnya. Dia melakukan apa yang dia kehendaki tanpa melihat akibat yang ditimbulkannya. Dia menghalalkan segala cara dengan menggunakan uangnya. Ini sangat buruk akibatnya terhadap diri sendiri dan orang lain.
  13. Tidak dapat mengendalikan nafsu. Penyakit nafsu atau sahwat umumnya lahir dari lemahnya kehendak baik dalam hati seseorang, baik untuk melakukan kebaikan (positif) maupun untuk melawan dorongan kejahatan dalam dirinya. Dorongan-dorongan kejahatan itu pada dasarnya berasal dari insting manusia, yang sebagian darinya merupakan kebutuhan dasar yang memberikan vitalitas dan dinamika kehidupan manusia. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa syahwat merupakan akar dari semua bentuk dosa manusia. Adapun jenisnya adalah syahwat kekuasaan, syahwat kesetanan, syahwat binatang.

Perbuatan sebagaimana disebutkan di ataslah yang harus kita hindari dan dijauhkan dari anak-anak. Kita harus memberikan teladan yang baik demi kebaikan anak kita. Anak akan melihat perilaku kita dan akhirnya meniru apa yang mereka lihat.