Anak di Usia Emas

Anak di Usia Emas

 

Oleh: Bisri Mustofa, S.Sos, M.I.P

Penyuluh Sosial Muda pada Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan

dan Perlindungan Anak Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta

 

Ketika mendengar istilah the golden age atau usia emas, tebersit di pikiran, sebegitu hebatnya rentang usia itu sehingga disebut dengan usia emas, sudah pasti usia yang sangat berharga. Dari namanya saja sudah menggambarkan betapa berharganya usia tersebut. Mengapa dinamakan usia emas? Apa keistimewaan dan tugas tumbuh kembang pada usia tersebut? Kemudian bagaimana memaksimalkan pendidikan anak di usia emas tersebut? Berikut ulasannya.

Usia emas atau the golden age adalah masa keemasan manusia. Usia ini merupakan periode yang amat penting bagi seorang anak. Pendidikan pada rentang usia tersebut sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Masa-masa emas tersebut berada dalam rentang antara usia 0 sampai 6 tahun. Walaupun ada yang mengatakan sampai usia 5 tahun. Mungkin karena sangat berharganya masa-masa tersebut sehingga dinamakan usia emas.

Dari berbagai hasil penelitian dibuktikan betapa pen­tingnya menanamkan nilai-nilai yang baik pada seorang anak dalam periode usia keemasan itu. Menurut penelitian, kecerdasan seorang anak mencapai 50 persen pada usia 0 sampai 4 tahun. Hingga usia 8 tahun kecerdasannya meningkat sampai 80 persen, dan puncaknya yaitu 100 persen di usia 18 tahun.

Sangat disayangkan, kesadaran pentingnya sentuhan yang terencana di usia dini ini belum disadarai penuh oleh sebagian masyarakat. Masa-masa berharga itu  masih kerap terabaikan, meski banyak pakar, pendidik, dan pemerhati anak sudah kerap mendengungkannya di ruang-ruang seminar dan di media massa. Kurang sadarnya orang tua dikarenakan informasi yang diterima masih sangat terbatas.

Sejatinya, sentuhan dan penanaman nilai-nilai kepada anak usia dini selama periode keemasan itu tidak sekadar memupuk kecerdasan dengan harapan tumbuh menjadi anak cerdas. Tak kalah pentingnya adalah menanamkan modal sosial (social capital) sebagai bekal dalam menjalani kehidupan di masa-masa selanjutnya. Justru kecerdasan emosi dan sosiallah yang akan banyak memberikan konstribusi terhadap kesuksesan anak.

Adanya modal sosial pada anak, menjadi bekal kehidupan yang penting dan mendasar untuk menyelesaikan konflik dari berbagai persoalan. Hal ini terbentuk melalui kesadaran yang mendalam bahwa manusia pada hakikatnya diciptakan secara berbeda-beda. Perbedaan pendapat, persepsi, dan tujuan sudah menjadi sesuatu yang wajar. Toleransi, pengertian, dan penghargaan atas keberagaman dan perbedaan inilah yang menjadi modal utama untuk mewujudkan kehidupan sosial anak kelak.

Kita sebagai orang tua harus menanamkan kemampuan untuk menerima dan menghargai perbedaan pendapat sejak dini pada setiap anak. Anak-anak dikenalkan sekaligus dibekali social life skill, seperti belajar menerima dan menghadapi perbedaan, rasa suka dan tidak suka, setuju dan tidak setuju, berbeda posisi depan dan belakang serta menerima dan memberikan pendapat atas suatu masalah. Orang tua dapat melakukan pembiasaan dan stimulasi yang tepat bagi si buah hati.

Dengen usaha tersebut diharapkan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahap tumbuh kembang dan potensi masing-masing. Bagaimanapun, pendidikan usia dini memiliki peranan penting dalam membentuk karakter anak yang bermoral dan berakhlak mulia, kreatif, inovatif, dan kompetitif. Pendidikan usia dini bukan sekadar meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan bidang keilmuan. Lebih dari itu adalah mempersiapkan anak agar kelak mampu mengusai berbagai tantangan di masa depan.

Pendidikan untuk anak usia dini bukan merupakan proses mengisi otak dengan berbagai informasi sebanyak mungkin, melainkan proses menumbuhkan, memupuk, mendorong, dan menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak mengembangkan potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Karena itu, pendidikan bukan didasarkan atas apa yang terbaik menurut orang dewasa tapi didasarkan apa yang terbaik untuk anak.

Mengapa pendidikan di usia emas ini begitu penting? Ya, karena hampir 80 persen otak anak berkembang pada periode emas tersebut. Pada masa-masa itu, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengawasi tumbuh dan berkembangnya otak anak. Karena pada pada masa itu otak anak berkembang sangat cepat sehingga informasi apa pun akan diserap, tanpa melihat baik atau buruk.

Anak adalah amanah yang diberikan Tuhan kepada kita. Mau jadi apa anak-anak kita ke depan sangat tergantung pada orang-orang yang mengelilinginya. Sesuai kodratnya, anak yang terlahir dari rahim ibu adalah laksana sebuah kertas putih yang polos. Orang tua dan lingkungan sekitarnya yang akan membentuk kertas itu menjadi berwarna. Baik dengan menulis, menggambar, atau bahkan ada yang meremasnya menjadi tidak berarti.

Semua proses bergantung pada kehendak orang tua dan orang dewasa dalam proses interaksi bersama anak. Pendidikan pada masa anak di usia emas menjadi tanggung jawab utama orang tua serta orang dewasa sebagai pengasuh dan pendidik di lingkungannya. Ketika mendidik anak-anak, perlu kita ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai kemampuan mereka sendiri.

Sebagai orang tua, kita mempunyai tugas bagaimana memberikan sarana dorongan belajar dan memfasilitasi ketika mereka telah siap untuk mempelajari sesuatu. Patut dicatat oleh kita semua, tidak ada anak yang bodoh di dunia ini. Yang ada hanyalah ketertarikan dan minat mereka yang beraneka ragam. Anak-anak mempunyai kecerdasan dan bakat yang berbeda-beda. Tugas kita hanyalah memfasilitasi mereka sesuai perkembangan yang mereka butuhkan.

Perkembangan pendidikan anak dapat terjadi melalui beberapa fase. Fase penting dan utama yaitu sejak tahun pertama seorang anak dilahirkan hingga pada usia enam tahun. Fase ini adalah sebuah masa yang baik dan istimewa di mana perkembangan fisik, mental, dan spiritual anak akan mulai terbentuk. Otak anak juga berkembang pesat hingga mencapai 80 persen. Berarti usaha kita juga harus betul-betul serius dalam memaksimalkan fungsi dan kegunaan otak tersebut.

Fase usia emas sangatlah penting. Hal tersebut dikarenakan fase ini akan membentuk kepribadian anak setelah ia dewasa. Untuk itu, peran pendidikan dalam fase ini menjadi sangat krusial dan tidak dapat disepelekan, karena perkembangan mental di usia ini berlangsung sangat cepat. Fase ini menjadi periode yang sensitif di mana anak sangat peka mempelajari atau berlatih sesuatu hal yang dia lihat dan saksikan.

Dengan demikian, lingkungan akan sangat memengaruhi anak, karena sifat anak yang cenderung menjadi peniru dari apa yang dilihat dan disaksikan. Anak tidak berpikir apakah yang dilihat dan saksikan itu baik atau buruk. Dijelaskan sehebat apa pun, anak akan lebih mempercayai apa yang dia lihat dan saksikan sendiri.

Tugas mulia orang tua untuk menjadi figur dan teladan moral bagi anak-anak bukanlah sebuah pilihan bebas, tetapi menjadi suatu keharusan yang tak dapat dielakkan. Ini adalah kenyataan hidup. Demi anak, kita tidak bisa menunda sampai besok, karena kebutuhannya adalah untuk hari ini. Untuk itu, kita sudah semestinya menjadi teladan mereka dalam setiap waktu dan setiap kesempatan.

Peran penting orang tua dan orang dewasa sebagai pendidik dan pengasuh adalah menjadi teladan yang baik. Bagai sebuah pepatah, ”Anak-anak tidak pernah menjadi pendengar yang baik bagi orang tuanya, tetapi mereka dapat menjadi ”peniru yang baik” bagi orang tuanya.” Mereka belajar melalui melihat apa yang ada dan terjadi di sekitarnya, bukan lewat nasihat semata-mata. Nilai yang kita ajarkan melalui kata-kata, hanya sedikit yang mereka lakukan, sedangkan nilai yang kita ajarkan melalui perbuatan, akan banyak mereka lakukan. Sikap dan perilaku kita merupakan pendidikan watak yang terjadi setiap hari, dari terbit matahari hingga malam menjelang.

Pertanyaannya adalah bagaimana menjadi model atau teladan yang baik bagi anak-anak? Paling tidak  kita  harus, 1) menyadari bahwa kita menjadi teladan anak-anak, 2) dapat menunjukkan prioritas  nilai melalui kegiatan dan pengalaman harian, 3) dapat menunjukkan kita adalah pribadi yang ramah, positif, dan terintegrasi, 4) menghadapi anak dengan penuh penghargaan, mencintai mereka dan mengerti mereka, 5) yakin akan nilai-nilai yang kita miliki, dan 6) bertanya kepada mereka bagaimana sebaiknya harus mengambil pilihan atau keputusan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, dalam meningkatkan kecerdasan anak, harus diciptakan suasana pendidikan yang tepat dan baik, yaitu pendidikan dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih (kasih), asah (memahirkan), asuh (bimbingan). Anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik ketika mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dan dalam situasi yang nyaman dan damai. Beliau menganjurkan agar dalam pendidikan, anak memperoleh sesuatu yang dapat mencerdaskan pikiran, menguatkan hati dan meningkatkan keterampilan tangan (educate the head, the heart and the hand).

Lantas bagaimana menciptakan prinsip pembelajaran asah, asih dan asuh tersebut? Orang tua dapat menciptakan suasana belajar di keluarga dan taman yang akrab, hangat, ramah serta bersifat demokratis. Anak-anak sebaiknya diberi kesempatan untuk menentukan keinginannya sendiri, karena dalam masa tersebut mereka sedang membutuhkan kemerdekaan dan perhatian dalam belajar. Dalam konteks tersebut anak-anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan menuntut untuk dapat dipenuhi. Mereka terdorong untuk belajar hal-hal yang baru dan sangat senang untuk bertanya dengan tujuan ingin mengetahuinya.

Selain berperan sebagai pengawas tumbuh dan berkem­bangnya anak-anak mereka, orang tua bertugas menambah pengetahuan, terutama seputar pertumbuhan anak. Namun, orang tua tidak bisa memaksakan pertumbuhan anak sesuai kemauannya, seperti menyuruh belajar di luar kemampuan anak dengan maksud agar anak mereka kelak menjadi pintar. Yang terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah menunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak suka meniru orang-orang terdekatnya.

Tugas lain orang tua adalah harus mengawasi anak mereka ketika menonton acara televisi. Pasalnya, saat ini banyak sekali program televisi yang tidak cocok bahkan tidak layak ditonton anak-anak, karena dikhawatirkan akan ditiru, seperti acara gosip yang menonjolkan isu-isu perceraian selebritas dan sebagainya. Televisi lebih baik dibatasi penggunaannya agar anak tidak terkontaminasi dengan program-program televisi tersebut Kalaupun harus menonton, usahakan kita juga ikut menonton sehingga bisa menjadi sensor acara televisi yang sedang ditonton anak.

Janganlah merusak karakter anak dengan kesalahan-kesalahan kita. Kalau kita menyuruh anak belajar, kita juga harus ikut ”belajar” dan mendampingi mereka. Anak akan mengajukan protes keras apabila dia disuruh belajar tapi orang tuanya justru menonton televisi. Mungkin kita dapat mendampinginya dengan membaca koran, majalah, atau menyelesaikan pekerjaan kantor. Jadi anak merasa mendapat perhatian dari orang tuanya.

Bagi orang tua yang mempunyai waktu singkat untuk berkumpul dengan anak-anaknya, usahakan anak diasuh oleh orang yang tepat. Tetapi, orang tua harus tetap meluangkan waktu untuk sang buah hati. Jika kita tidak mampu memanfaatkan waktu senggang untuk bermain dengan anak, maka anak tidak akan berkembang secara optimal. Kita perlu mengisi kebersamaan dengan dengan anak dengan, misalnya, bermain bola, berkemah di belakang rumah, memasak bersama dan anak diberi keleluasaan dalam menentukan menu dan memasaknya.

Akhirnya, tujuan pendidikan anak di usia emas adalah untuk memanusiakan manusia kecil yang berjiwa besar. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang cerdas, bermoral, terampil, serta mampu bertanggung jawab atas hidup dirinya dan orang lain di sekitarnya. Semoga kita mampu menciptakan masa depan anak-anak bangsa yang lebih bermartabat.

 

Daftar Pustaka

Sarwono, Sarlito Wirawan, 2020, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta, Bulan Bintang.

Mustofa, Bisri, 2011, Mendidik Generasi Berkualitas, Jakarta, Trans Media Abadi.

Purwanto, M. Ngalim, 2009, Ilmu Pendidikan, Teoritis dan Praktis, Jakarta, Rosda.